Di era teknologi sekarang,
tentu kita tidak akan merasa asing lagi dengan smartphone. Beragam merk dengan pilihan operating system (OS) yang beredar, seperti iOS, Blackberry,
Windows maupun Android seakan menjamur di pasaran. Lazimnya, smartphone biasa digunakan untuk bermain
game, chatting atau mungkin sekedar browsing internet. Tetapi, tidak
jarang pula kita temui seseorang yang hanya memanfaatkan smartphone sebagai piranti untuk menelepon dan mengirim SMS,
secanggih apa pun fitur yang tertanam di dalamnya. Ya, seakan orang tersebut
tidak akan bisa menggali potensi lebih dari benda yang digenggamnya itu.
Kasus serupa juga sering terjadi di dunia sepakbola. Dimana klub membeli pemain bintang dengan skill kelas wahid dan ditebus dengan harga mahal, tapi pada akhirnya klub tidak bisa memaksimalkan potensi pemain tersebut. Bahkan, kebanyakan di antara pemain tersebut terus mengalami penurunan performa.
Tengok saja nasib Juan
Sebastian Veron, tiba di Old Trafford pada 2001 dengan banderol sekitar 28 juta
pounds plus reputasi mengkilap di Lazio. Manchester United dan fans sempat menaruh
harapan besar terhadap playmaker asal Argentina ini. Namun, segalanya tak
pernah berjalan lancar bagi Veron,
pemain berkepala plontos asal Argentina itu langsung redup sebelum akhirnya dilego
ke Chelsea dua tahun kemudian. Veron pun tidak bertahan lama di Stamford Bridge,
hanya setahun Veron dipinjamkan ke Inter Milan, kemudian ke Estudiantes.
Nasib tak jauh berbeda pun
dialami dua pemain AC Milan, Andriy Shevcenko dan Kaka.
Shevchenko,
si pemilik nomor 7 tersukses di AC Milan ini sebelumnya dibeli
dari Dynamo Kiev seharga hanya 25 juta euro. Catatan 127 gol dari 208
penampilan bersama Setan Merah Italia membuat Chelsea kepincut, dan memaksa
London Biru harus membayar 75,2 juta euro untuk menebusnyanya di tahun 2005.
Tapi seperti yang kita tahu, pelan-pelan karir penyerang Ukraina itu pun meredup.
Sheva seakan tidak bisa nyetel dengan
permainan Chelsea. Selama tiga musim bergabung, dia hanya bermain 46 kali,
sebelum akhirnya dipinjamkan ke Milan dan dijual ke klub asalnya, Dynamo Kiev.
Sedang Kaka, gelandang serang
Brazil ini berandil besar mempersembahkan banyak gelar, di antaranya Piala Italia, Piala Super Italia dan Liga Champion Eropa. Bersama
Rossoneri, pemain bernama asli Ricardo Izecson dos Santos Leite ini bahkan berhasil
menyabet penghargaan Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year pada
2007. Madrid pun tanpa ragu memboyongnya dengan harga 65 juta euro untuk enam
tahun kontrak. Sayangnya setelah sempat cedera pada 2010, karirnya langsung
redup dan gagal bersaing masuk skuad utama Los Blancos. Sinarnya pun semakin
tertutupi dengan penampilan fantastis Cristiano Ronaldo.
Shinji Kagawa pun merasakan
hal serupa dengan Veron, Shevchenko dan Kaka. Di Borussia Dortmund, Kagawa
berperan penting saat timnya meraih dua gelar juara Bundesliga. Bahkan seorang
Mario Goetze, kesulitan merebut posisi Shinji di lini serang Die Borussien. Penampilan itu menarik
perhatian Sir Alex Ferguson, yang kemudian rela menggelontorkan dana 16 juta
pounds untuk membawanya ke kota Manchester. Sayangnya, di saat bersamaan United
juga mendatangkan Robin van Persie (RvP). Kehadiran RvP secara tidak langsung
berimbas pada posisi Kagawa. Tanpa RvP, posisi ujung tombak akan diberikan
kepada Rooney dan Kagawa tepat berada di belakang mantan penyerang Everton itu.
Dengan kehadiran van Persie, maka secara otomatis posisi striker utama dikuasai
striker Belanda itu dengan dukungan Rooney di belakangnya. Lalu, dimana posisi
Kagawa?
Kadang, playmaker Jepang itu
ditempatkan di sayap. Bahkan dia juga pernah diplot sebagai holding midfielder. Posisi yang tak
pernah dia akrabi. Akhirnya The Red
Devils memilih melepas Kagawa kembali ke Dortmund dengan nilai transfer hanya
setengah dari saat dia didatangkan dua tahun lalu.
Belajar dari beberapa kasus
di atas, sudah sepatutnya setiap klub yang hendak membeli pemain harus
menyertakan manual book pemain
tersebut sebagai bonus dalam paket transfer. Ya, seperti saat kita membeli smartphone yang selalu dilengkapi dengan
petunjuk pemakaian produk, agar produk secanggih itu dapat dimanfaatkan secara
maksimal, tidak hanya digunakan untuk telepon dan SMSan.
Seperti itu pula manual book pemain, karena jika seorang
pelatih tidak tahu bagaimana cara memaksimalkan pemain, dia bisa membaca
petunjuk lengkap atas diri si pemain. Apa saja kemampuan si pemain? Bagaimana
dia biasa bergerak dalam tim? Atau bahkan dimana posisi terbaiknya?
Jika benar-benar ada, mungkin manual book pemain akan sangat berguna bagi klub. Setidaknya klub tidak akan membuang banyak uang hanya untuk membayar pemain yang duduk dan ngobrol di bangku cadangan.
Ditulis oleh @oongwie.
Diambil dari berbagai sumber.


