Jika anda seorang Indonesia dan pernah menyaksikan konser
yang diselenggarakan oleh produsen rokok. Entah konser pop, rock dan dangdut
sekalipun pasti akan terselip penonton dengan membawa bendera Slank.
Meskipun di konser itu Slank tidak menjadi pengisi konser, bukan menjadi
salah satu band yang diundang. Tapi mengapa ada seorang yang dengan pede-nya
membawa bendera Slank?
Berapa rupiahkah mereka dibayar untuk sekedar membawa dan
mengibarkan bendera itu? Jawabannya, tentu saja tidak sepeser pun. Mereka melakukannya
secara sukarela sebagai solidaritas sesama Slankers, juga sebagai bukti
keeksisan kaumnya. Pun, bahwa bendera itu juga merupakan simbol dukungan moral
terhadap hal yang tidak ada di hadapan matanya.
UEFA, Federasi Sepakbola Eropa baru-baru ini mengeluarkan
sanksi denda terkait dengan pengibaran bendera di stadion saat pertandingan play off Liga Eropa. Bendera yang
dikibarkan bukan bendera Slank tentunya, melainkan bendera Palestina. Ya,
Dundalk FC, klub dari Liga Irlandia harus membayar iuran paksa sebesar 18 ribu
euro atau sekitar 278 juta rupiah setelah fans mereka mengibarkan bendera
Palestina saat laga melawan Hajduk Split.
Lalu, adakah hal salah dengan mengibarkan bendera Palestina?
Seperti dilansir dari Goal,
peristiwa tersebut dianggap mengandung muatan politik karena konflik antara Palestina dan Israel di Jalur Gaza masih berlangsung, sehingga dianggap melanggar
peraturan UEFA. Sebelumnya FIFA lewat
konfederasi dan federasi tiap negara juga telah mengamanatkan agar melarang pesepakbola
memberikan pesan apapun lewat tulisan saat masih di atas lapangan. Namun, nampaknya
aturan itu bukan hanya untuk pesepakbola, tapi juga untuk fans.
Selain Dundalk FC, agaknya
UEFA juga akan segera memberi sanksi kepada dua klub Liga Skotlandia. Glasgow
Celtic dan St. Johnstone juga diharuskan membayar denda karena “pelanggaran”
serupa. Fans Celtic mengibarkan bendera Palestina dalam pertandingan menghadapi
KR Reykjavik, sedangkan St. Johnstone menghadapi Spartak Trnava juga di play off Liga Eropa. Fans Celtic khususnya, memang dikenal memiliki
solidaritas dan rasa kemanusiaan tinggi terkait dengan Palestina.
Bahkan, dewan kota Glasgow
secara terang-terangan memberikan
dukungan terhadap Palestina dan menolak agresi militer Israel dengan
mengibarkan bendera Palestina di tengah kota. Hal itu memicu respon negatif dari
para pengusaha Amerika Serikat (AS). Fortune 500, perkumpulan pengusaha AS membatalkan
rencana kunjungan enam harinya di Glasgow akibat kebijakan tersebut. Kunjungan
ini sendiri sedianya akan dihadiri oleh perwakilan dari Wal-Mart, ExxonMobil
dan Coca-Cola.
Konselor Archie Graham
menanggapi pernyataan Fortune 500 dengan mengatakan Glasgow sangat membenci dan
menolak setiap bentuk diskriminasi, termasuk anti-Semitisme dan Islamophobia.
Glasgow adalah otoritas lokal kedua di Skotlandia yang mengibarkan bendera
Palestina. Sebelumnya pemerintah Dunbartonshire Barat melakukan hal yang sama
pekan lalu. Lima otoritas lain dikabarkan akan mengikuti langkah ini.
UEFA dan Fortune 500
sendiri nampaknya harus banyak bertanya kepada para Slankers. Tentang bagaimana
pengibaran bendera diartikan?
Apakah setiap bendera yang
dikibarkan harus dimaknai sebagai dukungan politik?
Bukankah masih ada hal
lebih tinggi dari sekedar politik? Kemanusiaan.
Ya, kemanusiaan. Pengibaran bendera Palestina di tribun stadion hendaknya tidak dikerdilkan hanya sebagai dukungan politis, tapi cobalah kita maknai sebagai dukungan moral terhadap kemanusiaan. Tentang solidaritas terhadap sesama manusia, tentang kehidupan normal manusia yang harus hilang, direnggut oleh perang. #SAVEPALESTINA
Ditulis oleh @oongwie.
Diambil dari berbagai sumber.

